November 4, 2009 oleh chantartika
Milad Bapak Harry tahun ini, Umay & Aulia di ajak ke Pantai Ciputih Ujung Kulon Banten. Bapak sudah bilang kalau perjalanannya membutuhkan waktu + 6 – 7 jam. Benar saja.. berangkat dari rumah jam 5.30 pagi, sampai di villanya jam 12.00 siang. Sudah jauh.. jalannya ada yang rusak pula. Untung saja pakai Ford 4 WD, jadi jalan jelekpun bisa dengan mudah di lewati.
Ternyata Villanya ‘tetanggaan’ dengan Hutan Lindung Ujun Kulon. Dan tempatnya benar-benar bagus. Pantainya bersih…pasirnya putih…udaranya segar … Villanya juga bersih-untuk ukuran Villa yang jarang pengunjungnya-. Tamunya cuma keluarga kami saja.. hem… serasa punya sendiri
Villa Ciputih, lengkap dengan Pemanas, Kulkas mini dan TV-walaupun siarannya terbatas-.
Kolam renang di depan restaurant.
Kolamnya bersih, tapi gak ada untuk anak-anak.
Umay saja sampai jinjit berenangnya.
Dermaga tua, tempat Bapak Harry Popping.
Ikannya besar-besar, sampai mutusin umpan 2 buah. Dibatu karangnya banyak kepiting kecil dan Ikan hias-lucu lucu-. Airnya masih bening, jadi masih kelihatan jelas.
Dekat dermaganya ada pohon yang tumbuh diatas batu karang. Ibu tertarik untuk photo di bawahnya. 
Pantai Ciputih Ujung Kulon
Umay & Aulia langsung main di pantai 

Ibu tidak mau ketinggalan, bergaya di depan kamera
.
Yang ini, Bapak sedang bersantai menikmati Pop Mie.
Paginya, Umay & Aulia mandi air laut. Senangnya mereka main ombak 
Rencananya akan ada trip selanjutnya ke Pulau Umang atau Pulau Air atau Pulau Bidadari, masih berbau-bau pantai dech 
Terima kasih Bapak Harry, untuk traktirannya.
Ditulis dalam Jalan-jalan | 5 Komentar »
September 3, 2009 oleh chantartika
Hari Rabu, tanggal 2 September 2009, Jakarta di guncang Gempa. Gempa tersebut berada di Perairan Laut Jawa dengan kedalaman 30 Km di bawah laut, magnitudo: 7,3 SR, arat Barat Daya Tasikmalaya, jam 14:55 wib. Gempa kedua terjadi pada jam 16.28 wib, dengan kedalaman 15 KM, Magnitudo 5,4 SR.
Gempa yang pertama terasa sampai Jakarta. Ibu sedang duduk di meja kerja, tiba-tiba merasakan getaran, sewaktu berdiri rasanya seperti diayun ombak. Gempa di rasakan sekitar 3 menit, setelah itu getarannya melemah dan berhenti. Langsung saja teman-teman sekantor di evakuasi untuk keluar dari gedung. Ternyata karyawan gedung tetangga juga sudah keluar dari gedung masing-masing. Saat gempa, jaringan komunikasi langsung down, karena traffic yang tinggi. Ibu menghubungi rumah, tidak bisa, menghubungi Bapak juga sama. Ibu coba untuk menghubungi rumah Nenek, dan rumah Cengkareng, tetep gak nyambung. Kepanikan langsung melanda hati Ibu. Semoga mereka tidak apa-apa.
Setelah 1/2 jam, baru Telp Rumah dan Bapak bisa dihubungi. Alhamdulillah mereka baik-baik saja. Kakak malah bilang kalau dia dan Aulia tidak merasakan gempa, karena sedang jalan-jalan (muter-muter) di ruang tamu. “Aku tau bu, kreinya goyang, sama hiasan (tirai dari kerang) ibu goyang, tapi aku pikir di tiup angin, jadi aku biasa aja. lagian kalau di dlaam rumah itu gak apa-apa, bu… kan gak akan roboh…” Wah… Ibu langsung ‘agak’ sewot. “Kakak.. kalau nanti goyang lagi, kakak langsung keluar rumah ya.. jangan ada di dalam, ok..”. Jam 4 kurang 15, karyawan diperbolehkan untuk pulang, untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan. Berhubung semua pulang pada saat yang bersamaan, jalannya jadi muacet…..
Belajar dari kemarin, tips menghadapi gempa:
- Jangan panik, tetap tenang, jangan terburu-buru.
- Ikuti jalur evakuasi yang sudah di tentukan di setiap gedung. Jangan menggunakan Lift. Usahakan sewaktu turun tangga tidak berlari, dan tidak menggunakan sepatu hak tinggi.
- Langsung menghubungi keluarga. Biasanya saat pertama kejadian, trafic masih belum terlalu padat.
- Cari alternatif jalan pulang, bisa naik kereta atau lewat jalan yang tidak banyak di lalui orang (yg ini susah ye…)
.
- Ajari anak untuk mengerti, apa itu gempa, bagaimana cara evakuasi dan apa yang harus di lakukan saat gempa terjadi.
Hari ini… Ibu mau cari buku mengenai gempa yang bisa dipahami oleh anak-anak.
Ditulis dalam Be Mature | 2 Komentar »
Agustus 20, 2009 oleh chantartika
Hari Minggu, 16 Agustus 2009, Ibu dapat free ticket untuk nonton bareng ‘Meraih Mimpi’ di Blitz Megaplex Grand Indonesia, dari majalah Ayahbunda. Dress codenya pakaian serasi antara anak dan Ibu. Berhubung sudah punya kaos yang sama, jadi gak pusing lagi milih bajunya.
Jam 8 berangkat dari rumah, sampai Grand Indonesia pas jam 9.15 pagi. Karena pre launching filmnya Nia Dinata, jadi banyak artis yang datang. Pas kita sedang ngantri, Mba Lala-stylisnya ayahbunda- nempelin pita biru ke baju Ibu, ternyata kita salah satu pemenang dress code. Alhamdulillah dapat hadiahnya buanyak.. pas buat Ibu, Umay dan Aulia.
Filmnya sendiri adalah film kartun pertama buatan putra-putri dan di produseri oleh orang Indonesia. Yang isi suaranya ada Gita Gutawa-Dana-,Phaton-Ryan(kl gak salah)-,Cut Mini-Kakak Tua-,Shanty-Burung Gagak,Surya Saputra-Pak Poirot-,Indra Bekti-anaknya pak Poirot(namanya lupa..)-, dan banyak lagi. Inti ceritanya tentang Dana yang ingin merubah kehidupan di desanya, dengan mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan sekolah-keluar dari desanya-. Di desanya Dana, masih ada perjodohan, perempuan tidak usah sekolah tinggi-tinggi dan membayar pajak kepada Tuan Tanah. Keluarga Pak Poirot-Tuan Tanah- ditunjuk oleh raja dahulu kala untuk melindungi desa (dengan bukti surat wasiat), tetapi Pak Poirot menyalahgunakan kewenangannya dengan menarik pajak dan akan membuat desa menjadi pusat perjudian. Ada salah satu kakek yang dianggap gila,ternyata dia mengetahui kalau surat wasiat yang di punyai oleh keluarga Pak Poirot palsu. Kakek tua itu lalu memberitau Dana agar mencari surat wasiat yang asli yang ada di dalam kuburan raja. Dana di temani oleh adiknya-Ray- dan di buntuti oleh anak Pak Poirot, mulai mencari surat wasiat itu. Akhirnya Dana berhasil menemukan surat wasiat di Guci dan membawanya ke desa untuk di perlihatkan kepada ayahnya dan penduduk desa. Pada saat yang sama, penduduk desa sedang melawan Pak Poirot yang mau meratakan rumah-rumah di desanya untuk membangun kasino. Penduduk desa di bantu oleh para binatang, melawan Pak Poirot dan suruhannya. Mereka berhasil menahan orang-orang suruhan pak Poirot, tetapi Pak Poirot tidak gentar. Sewaktu Dana memperlihatkan surat yang asli yang di dapatnya dari dalam guci, Pak Poirot mengambil dan merobek surat tersebut. Penduduk desa langsung bersedih, tapi itu tidak lama, karena kakek tua mengatakan kalau guci yang dipegang Danalah, surat wasiat yang asli. Penduduk desapun bersuka ria.
Gambar filmnya sudah bagus, hanya backgroundnya masih terlihat kaku. Maklum juga, karena membuat film animasi itu muahal… Salut untuk Nia Dinata dan Tim nya. Semoga setelah Meraih Mimpi, akan banyak film-film kartun buatan anak bangsa. Hidup Indonesia.
Ditulis dalam Jalan-jalan | Leave a Comment »