Hari ini dengar cerita dari Bpk Harry. Ceritanya tentang keluarga pekerja keras yang tadinya mapan-down-lalu mapan lagi. Keluarga itu saat ini punya usaha jualan es palu putung di daerah Tangerang. Tadinya si bapak (yg jual palu putung), adalah pekerja di salah satu bank. Dia memutuskan untuk mengundurkan diri karena keputusan yang di ambil atasannya tidak sesuai dengan hati nuraninya. Dia lalu berkata “Tidak kerja di bank pun saya bisa hidup. Jualan espun saya bisa hidup”. Dan itulah yang di lakukannya samapai saat ini.
Dimasa sulit, si bapak habis-habisan menjual harta bendanya. Dia dan istrinya membuat es palu putung yang pertama kali di bagikan gratis ke tetangga sekitar rumah. Mereka meminta masukan dari para tetangganya, apa saja yang kurang dari es palu putungnya. Setelah itu, mereka mulai meningkatkan produksinya dengan menitipkannya ke warung-warung, dan anak mereka tidak malu membawa dagangan esnya ke sekolah. Jika mereka mendapati orang yang di tawarkan es, tidak tertarik, maka mereka akan memberikannya dengan gratis.
Semakin lama, es palu putungnya semakin di kenal orang dan saat ini mereka menyewa satu ruko di tangerang yang hanya menjual es palu putung saja. Bapak harry bilang kalau warungnya penuh dengan pembeli, yang mengantri kebanyakan pakai mobil. Si bapak-pemilik warung- pun sudah bisa membeli CRV keluaran terbaru. Omzetnya sehari 4 juta di kurangi biaya-biaya, bersihnya 2 juta sehari. hanya dari satu bungkus palu putung yang dijual Rp.5.000,-.
Apa yang menyebabkan warungnya penuh dengan pembeli ? Ternyata ini dikarenakan sikap pemilik warung yang “Down to Earth”. Mereka melayani pembeli langsung, mengatakan “terima kasih sudah bantu kami”, “datang lagi Pak Bu”, “apa yang kurang ?”, “esnya harus di habiskan hari ini karena pakai santan, kalau lupa dimakan, Bapak Ibu bisa kembalikan ke kami, nanti kami ganti dengan yang baru”. Sewaktu mengantri, mereka selalu melayani pembeli yang mengantri dengan baik, “Bu, berdirinya di sini saja, di sana panas”. Jika warungnya penuh dan banyak yang mengantri, mereka selalu bilang, “maaf Pak Bu, sedang penuh, maaf harus menunggu.” “Maaf Pak Bu agak di geser biar yang lain dapat duduk, maaf ya Pak Bu”. Pemilik warung pun selalu memberikan pesanan langsung kepada pembeli dengan dua tangannya sambil berkata, “terima kasih”. Jika kita membayar, maka istri pemilik warung akan berkata “terima kasih sudah bantu kami, silahkan kembali lagi”.
Menjelang malam, warungnya akan di antri oleh anak-anak jalanan. Mereka mengantri es palu putung yang tidak habis terjual. Mereka di persilahkan makan dan duduk di bangku warungnya. Jika masih tidak habis, mereka akan membagikan es palu putung kepada orang yang lewat, gratis. Quality Assurancenya benar-benar di jaga. Si pemilik tidak pernah besar kepala karena sekarang hidupnya sudah mapan. Dia tetap mau turun dan melayani sendiri pembeli es palu putungnya.
Mudah-mudahan semakin banyak pribadi-pribadi yang “Down to Earth” sehingga dunia ini menjadi lebih baik.

sangat menyentuh… hmm es palu putung, waktu itu pernah ke makassar.. endang bgt dah rasanya…salam buat keluarga ya Bung
Makasih ya tulisannya..
Keren..
Terima kasih Dito dan Mba Ocha..
Aku saja yang nulis, kalau baca masih suka ‘nangis’